Di Tengah Kekhawatiran soal Wabah Virus Corona, Bagaimana agar Tak Panik?

Penyebaran wabah virus corona masih meresahkan dunia. Hingga Minggu (8/3/2020), lebih dari 90 negara mengonfirmasi kasus positif terinfeksi virus corona jenis baru penyebab Covid-19. Virus corona mewabah sejak akhir Desember 2019 di Kota Wuhan, Hubei, China, hingga akhirnya meluas ke banyak negara. Di Indonesia, data terakhir menunjukkan ada enam orang yang dinyatakan positif terinfeksi virus corona. Sementara itu, ratusan orang lainnya dalam pemantauan dan pengawasan. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran, tak jarang membuat masyarakat panik. Bagaimana agar tak panik tetapi tetap waspada menghadapi ancaman wabah virus corona? Konsultan motivasi The Happiness Experts Company, Paul Krismer, mengungkapkan, hal yang harus dilakukan adalah mengakui rasa takut, cemas, panik, dan khawatir yang mungkin Anda alami.

Rasa takut, cemas, panik, misalnya, muncul karena melihat langkanya masker atau kekhawatiran akan terjadi sesuatu sehingga terjadi panic buying. “Semua emosi harus dihormati. Jadi biarkan diri Anda merasakan apa pun yang Anda alami, alih-alih mendorong mereka,” ujar Krismer, seperti dikutip South China Morning Post, Minggu (8/3/2020). Ia juga menyarankan masyarakat untuk tidak terlalu lama dalam ruang emosi negatif tersebut. “Anda harus mengambil perspektif rasional untuk masalah yang sangat nyata dan kompleks ini dan tanyakan pada diri Anda beberapa pertanyaan penting,” lanjut dia.

Beberapa pertanyaan itu di antaranya: Seberapa besar Covid-19 mengganggu diri Anda? Tindakan pencegahan apa yang dapat diambil dan bagaimana saya dapat mengatasi kegelisahan ini? Menurut Krismer, seseorang akan menemukan kedamaian atau ketenangan ketika mengambil tindakan yang lebih praktis untuk masalah tersebut. “Kekhawatiran dan ketakutan akan terasa jauh lebih ringan,” ujar Krismer.

Kekhawatiran juga cenderung membawa kita ke masa depan. Meskipun demikian, masa depan hampir selalu di luar kendali kita. Oleh karena itu, Krismer mengatakan, penting untuk memikirkan hal yang sedang berlangsung saat ini. “Banyak dari kita memiliki pemikiran yang mengalir di kepala kita yang memberi tahu kita apa yang harus dipikirkan atau dikhawatirkan,” ujar Krismer. Sebaiknya, kata dia, tak menganggap kekhawatiran yang muncul itu sebagai realita saat ini. Isi pikiran dengan hal positif, seperti mayoritas dari kita dalam kondisi sehat, orang yang kita cintai baik-baik saja, dan hidup ini baik-baik saja. Menurut Krismer, dengan pola pemikiran seperti ini, dapat menjadi penangkal yang kuat untuk tidak mengkhawatirkan masa depan atau masa lalu.

Sementara itu, psikiater dari pusat Kesehatan Psikologi di Singapura, Dr. Lim Boon Leng mengungkapkan, sangat mudah untuk membiarkan hati menguasai pikiran kita dalam situasi krisis.

Yang perlu diwaspadai adalah pikiran-pikiran negatif dan pikiran yang tidak masuk akal. Oleh karena itu, kata Dokter Lim, masyarakat harus melawan rasa khawatir itu. Kekhawatiran yang tidak perlu tidak hanya menguras energi, tetapi juga menyebabkan kecemasan yang berdampak tidak baik bagi sistem kekebalan tubuh. “Hal ini juga berguna untuk mengingat bahwa Anda tidak sendirian,” ujar Lim yang juga ahli dalam gangguan kecemasan. “Cobalah untuk menjadi kuat dan tetap positif bagi mereka. Kita tahu dari wabah sebelumnya, SARS yang merebak pada 2003, dan flu babi H1N1 pada 2009,” lanjut dia. Dari dua kasus wabah dunia itu, setidaknya orang-orang telah berhasil menghadapi masa sulit dan dapat mengatasi virus corona.

Untuk membantu mengelola perasaan tidak enak, Lim menyarankan agar melakukan rutinitas harian seperti biasa. Selain itu, atur jenis dan kuantitas informasi yang Anda konsumsi setiap harinya. “Berikan waktu pada otak Anda untuk beristirahat dan jangan terlalu memikirkan apa yang telah Anda baca atau lihat,” ujar Lim. Upaya lain yang dapat dilakukan untuk mencegah kecemasan dalam pikiran bisa dilakukan aktivitas-aktivitas berikut, di antaranya: Olahraga secara teratur Beraktivitas di luar sehingga mendapatkan udara segar Makan makanan yang seimbang Tidur cukup Meluangkan waktu untuk perawatan diri. Saat Anda sudah merasa baik, kuat, dan sehat, berarti Anda telah berhasil atau mampu mengatasi apa pun yang terjadi di sekitar Anda.

Catatan: Artikel asli bisa disimakĀ DI SINI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *