New Normal, Sektor Produktif Harus Diutamakan

JAKARTA – Pada akhir pekan ini, pasar menunjukkan sentimen positif menyusul wacana pemberlakukan new normal (kenormalan baru). Ini terlihat dengan dengan penguatan indeks harga saham gabungan (IHSG) dan rupiah pada sesi penutupan Jumat (29/5) kemarin.

Pengamat ekonomi Institute for Development of Economic and Finance (INDEF) Enny Sri Hartati mengatakan sentimen pasar ini bisa menjadi modal yang baik untuk peningkatan kegiatan ekonomi. Namun, apabila tidak disertai dengan pengetatan protokol kesehatan covid-19, sentimen ini dikhawatirkan akan berbalik pada pelemahan karena memicu bertambahnya penularan virus covid-19.

“Sentimen positif tentu modal yang baik untuk pelaku usaha. Jadi, harus dilakukan optimalisasi dari protokol kesehatan covid-19,” ujar Enny kepada Media Indonesia, kemarin.

Karena itu, Enny menyarankan agar pada penerapan kenormalan baru nanti pemerintah mendahulukan penormalan pada sektor produktif ketimbang sektor ritel modern seperti mal, sementara peningkatan penularan covid-19 masih tinggi.

Dia mengatakan sektor produksi akan lebih optimal dalam penerapan protokol covid-19. Alasan pertama, di setiap pabrik memiliki kejelasan pihak yang bertanggung jawab selama proses produksi, bisa dilakukan sistem sif serta penerapan aturan dan hukum yang lebih mudah.

Kedua, sektor produksi atau industri memiliki kontribusi riil terhadap aktivitas ekonomi karena ada hasil dari produksi. Sebaliknya, di sektor perdagangan, orang lebih pada melakukan spending untuk belanja. Namun, penegakan protokol covid-19 berisiko bocor sehingga ini harus sangat diperhatikan.

Selain mendapat respons positif pasar, rencana pemberlakukan kenormalan baru juga disambut antusias para pelaku usaha. Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, misalnya, optimistis transisi new normal ini bisa meningkatkan kegiatan ekonomi jika dibandingkan dengan kondisi ekonomi pada 1-2 bulan terakhir.

“Kami optimistis transisi ke new normal akan meningkatkan kegiatan ekonomi jika dibandingkan dengan 1-2 bulan terakhir. Ini yang terefl eksi pada pasar saham dan nilai tukar,” ujar Wakil Ketua Umum Kadin Shinta Kamdani kepada Media Indonesia.

Lebih lanjut Shinta menjelaskan, jika berhasil diterapkan secara nasional, kenormalan baru akan meningkatkan kegiatan ekonomi dalam jangka pendek. Dalam beberapa pekan pertama kenormalan baru, ekonomi diprediksi akan pulih secara bertahap sesuai dengan transisi relaksasi pembatasan pergerakan orang dan mekanisme kontrol terhadap pandeminya.

Namun, ia menegaskan pemulihan ekonomi hingga ke level normal seperti sebelum pandemi memang membutuhkan waktu yang lebih lama.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *